Media "Berita" Televisi
Sebagai media yang cukup strategis, televisi punya peran yang cukup besar dalam membentuk opini publik. Sudah lama sejak reformasi berlangsung, yang paling bisa dilihat berbeda adalah tayangan televisi. Tentu kabar yang menggembirakan bagi orang-orang yang selama ini mengagung-agungkan kebebasan pers.
Dulu, sebelum reformasi, katanya pers begitu dikekang oleh pemerintah. Sehingga dalam setiap penyampaian berita tentunya sudah diseleksi. Sekarang, layaknya penegak keadilan, pers selalu memburu "yang katanya ketidak-adilan".
Lepas dari yang namanya keadilan, yang namanya informasi akan memberikan dampak bagi pandangan publik. Semakin seringnya informasi dijejalkan secara sepihak, tentunya akan mengubah sikap bagi orang yang menerima informasi tersebut. Masyarakat tidak punya pilihan dalam menngakses berita dari TV, sehingga informasi yang diterimapun berasal dari satu pihak.
Ada teori yang mengatakan, bila ORANG BAIK berbuat 9 Kebaikan dan 1 Keburukan, maka Keburukannya itu yang akan diliput, sedangkan kebaikannya dianggap tidak menarik (tentunya bagi yang menulis berita tersebut). dan sebaliknya bila PENJAHAT berbuat 1 Kebaikan dan 9 Keburukan, maka Kebaikannya itu yang akan diliput, sedangkan keburukannya dianggap tidak menarik(hal biasa).
Sehebat-hebat organisasi, tentunya akan membutuhkan anggaran biaya dalam menjalani keberlangsungan kegiatannya. Apa sih yang menjadi sumber pendapatan sebuah media? Bisakah media bertahan dengan Idealismenya? Seberapa besar pengaruh penyumbang dana bagi sebuah Media?. jawabannya adalah kembali ke Pimpinan Media tersebut.
Jika dulunya haluan sebuah berita ditentukan oleh pemerintah, sekarang sudah tentu dikendalikan oleh Pimpinannya (dan juga penyumbang dana yang punya kepentingan terhadap suatu berita). Heran juga, ketika orang lain (bukan wartawan) begitu diusut oleh wartawan, bukankah akan adil bila wartawan juga diusut mengenai kebenaran suatu berita yang disampaikannya. Bagaimanapun juga layaknya sebuah sejarah, beritapun dilakukan dan ditulis oleh manusia. Fakta itu satu, sudut pandang berbeda, begitu juga berita akan ditulis sesuai dengan kehendak penulis dan juga editor (+ yang lain)nya.
Cukup terhenyak ketika sebuah berita diulang-ulang, dan pastinya yang diulas kemungkinan besar keburukannya. Walaupun diulas keduanya, namun dalam penyampainnya terkadang tidak berimbang. Ingatlah bahwa manusia lebih gampang mengingat keburukan orang lain dari kebaikannya. Bila pola pikir seseorang sudah terbentuk cukup susah untuk mengubahnya.
Dah dulu ah....